hero image

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer dikenal sebagai sastrawan Indonesia yang produktif dan menjadi salah satu tonggak zamannya. Kiprah kepengarangannya yang merentang selama hampir setengah abad ditandai lahirnya ratusan karya fiksi dan nonfiksi yang memperkaya khazanah kesusastraan Indonesia modern. Dia seorang pencerita ulung dan merupakan pengarang Indonesia yang tak tertandingi sampai hari ini.

1. BLORA

Rumah Masa Kecil Pramoedya Ananta Toer di Blora, 1998
Rumah Masa Kecil Pramoedya Ananta Toer di Blora, 1998
(Arsip Pramoedya Ananta Toer Foundation)

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, sebagai putra sulung pasangan Mastoer Imam Badjoeri dan Siti Saidah. Seorang aktivis pergerakan nasional dan Kepala Instituut Boedi Oetomo (IBO) Blora, aktivitas Pak Toer memaksanya berjarak dengan tumbuh-kembang anak-anaknya. Di sini, peran Ibu Saidah sangat besar dalam mengayomi keluarga sebagai ibu yang mengasihi dan mendidik anak-anaknya menjadi manusia tangguh.

Pada 1929, di usia 4 tahun, Pramoedya mulai bersekolah di Sekolah Dasar IBO yang dikepalai ayahnya sendiri. Alih-alih menjadi harapan orang tua, Pramoedya mengalami lambat belajar sehingga harus tinggal kelas di kelas satu, kelas dua, dan kelas tiga. Sebagai bapak dan sebagai kepala sekolah, Pak Toer sangat kecewa dengan pencapaian ini, dan memutuskan untuk memberi pelajaran tambahan khusus bagi Pramoedya dengan keras. 

Pada 1932, Sekolah Dasar IBO terdampak Wilde School Ordonantie yang dikeluarkan pemerintah Hindia Belanda. IBO dianggap sekolah ilegal yang ijazahnya tidak diakui pemerintah. Murid-murid IBO yang memilih pindah sekolah satu persatu mulai mengguncang ekonomi keluarga Toer. Tiga tahun kemudian, 1935, Boedi Oetomo yang telah bergabung dengan Partai Indonesia Raya mengambil-alih seluruh aset milik IBO dan memecat Pak Toer tanpa penjelasan.

Sejak usia 10 tahun, Pramoedya mulai menulis buku harian. Perasaan rendah diri membuat Pramoedya sulit menceritakan perasaannya, dan buku harian menjadi pilihan tempatnya bercerita sebebas-bebasnya tanpa diketahui orang lain. Empat tahun kemudian, pada 1939, Pramoedya dinyatakan lulus dari SD IBO dan berkeinginan melanjutkan sekolah ke Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs di Madiun. Menghadapi permintaan ini, Pak Toer menjawab,

Anak bodoh! Kembali kau ke sekolah dasar! Kalau kau cerdik sedikit saja, ulangi kelas tujuh!

Pramoedya sempat patah arang menghadapi sikap ayahnya. Sebagai jalan keluar, Ibu Saidah menggunakan tabungan pribadinya supaya Pramoedya dapat melanjutkan sekolah ke Radio Vakschool di Surabaya. Sekolah kejuruan ini dipilih, selain karena biayanya yang rendah, juga karena kelulusannya yang cepat. Namun, pecahnya Perang Pasifik pada akhir 1941, disusul runtuhnya Hindia Belanda pada 8 Maret 1942 membuat Pramoedya tidak pernah mendapatkan ijazah resmi dari sekolah ini.

Awal 1942, Pramoedya pulang ke Blora dan menyaksikan brutalnya tentara pendudukan Jepang merampas harta penduduk, termasuk sepeda dan arloji milik Pramoedya dan Pak Toer. Di keluarganya, krisis memuncak pada 8 Juni 1942, ketika Ibu Saidah meninggal dunia di usia 34 tahun, disusul kematian Soesanti, adik bungsu Pramoedya yang baru 1 tahun. Tuberkolosis merenggut nyawa kedua sosok yang sangat dikasihi Pramoedya itu.

Dalam keadaan yang tidak menentu pascaberpulangnya Saidah, Pak Toer menjual barang-barang berharga yang tersisa di rumahnya. Dengan penuh rasa tanggung jawab dan ingatan akan pesan ibunya untuk hidup mandiri, Pramoedya mengajak adik langsungnya, Prawito, untuk merantau ke Djakarta. Usianya 17 tahun: seorang kakak yang bertanggung jawab atas penghidupan tujuh orang adik.

Rumah Masa Kecil Pramoedya Ananta Toer di Blora, 1998

2. DJAKARTA

Gedung ANTARA Persbureau, Djakarta, ca. 1948
Gedung ANTARA Persbureau, Djakarta, ca. 1948
(Arsip Nationaal Archief)

Hanya satu orang yang dikenal Pramoedya di Djakarta: Moedigdo, adik Pak Toer. Di kediaman pamannya itulah, Pramoedya bermukim. Tanpa berlama-lama, Pramoedya mendaftarkan diri ke Taman Dewasa, sekolah setingkat SMP di bawah Tamansiswa. Berbekal keahlian mengetik yang dipelajarinya sendiri, Pramoedya diterima menjadi juru ketik kantor berita DOMEI. Sebagian penghasilannya dia kirimkan ke Blora, dan sisanya Pramoedya gunakan untuk uang sekolah dan uang sakunya sendiri. 

Pekerjaan sebagai wartawan memungkinkan Pramoedya mempelajari berbagai skill yang tidak dia dapat di sekolah, termasuk mengkliping, menyusun kronik, stenografi, dan membaca ensiklopedia. Sebagai wartawan, Pramoedya dapat mengikuti kursus di Sekolah Tinggi Islam. Pelajaran sejarah, filsafat, sosiologi, ekonomi, dan psikologi dia dapatkan dari dosen-dosen terkemuka, seperti Mohammad Hatta, Soekardjo Wirjopranoto, H.M. Rasjidi, dan Eliezer Karundeng.

Setelah lebih dua tahun bekerja, Pramoedya justru mendapatkan penurunan pangkat menjadi pembantu arsip. Karena tidak terima, Pramoedya meninggalkan sekolah dan pekerjaannya, dan pergi ke Ngadiluwih, Jawa Timur, kampung halaman Pak Toer. Beberapa bulan kemudian, Pramoedya mengetahui berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dari prajurit-prajurit PETA yang dipulangkan ke Ngadiluwih.

Pada Oktober 1945, Pramoedya bergabung dalam Organisasi Pertahanan Pemoeda, dan ditempatkan di Resimen 6 di bawah Divisi Siliwangi. Wilayah kerjanya meliputi wilayah Bekasi, Tjikampek, Krandji, Lemah Abang, hingga ke Karawang. Pengalaman kewartawanan di DOMEI menjadikan Pramoedya memenuhi syarat untuk dipekerjakan sebagai koresponden militer surat kabar Merdeka, dan membawahi satu kompi beranggota 60 orang dengan pangkat letnan dua. 

Dari jarak dekat, Pramoedya melihat perilaku tentara yang arogan dan korupsi yang sempat membuat Pramoedya tidak menerima gaji selama 7 bulan. Dia memutuskan keluar dari dinas ketentaraan terhitung 1 Januari 1947, dan kembali ke Djakarta untuk bekerja sebagai wartawan majalah Siasat dan mingguan Sadar, seksi publikasi bahasa Indonesia dari media The Voice of Free Indonesia.

Di Djakarta, Pramoedya mendukung gerakan bawah tanah dengan menggandakan pamflet dan poster-poster perjuangan. Karena tugasnya itu, Pramoedya ditangkap NICA pada 23 Juli 1947 dan dikurung di Penjara Bukitduri. Perpustakaannya disita, beserta naskah-naskah yang sudah dia susun. Sebagai hukuman, Pramoedya diperintahkan untuk melakukan kerja paksa di Pulau Damar dan memotong rumput di Bandar Udara Kemajoran dengan imbalan delapan sen per jam.

Di penjara, Pramoedya mendapatkan santunan dari Palang Merah Indonesia dan Panitia Korban Politik yang disampaikan kurir. Salah satu kurir itu adalah Arvah Iljas, gadis berdarah Sunda-Betawi yang membuat Pramoedya jatuh hati. Secara teratur, dalam setiap kunjungan, Pramoedya memperoleh kertas yang dapat dia gunakan untuk menulis, sementara buku-buku dan surat kabar dapat diaksesnya di perpustakaan penjara.

Dengan kertas yang dikirimkan Arvah Iljas, Pramoedya menulis dua novel berjudul Perburuan dan Keluarga Gerilja. Naskah Perburuan diselundupkan oleh Gertrudes Johannes Resink, pengajar Fakultas Hukum Universiteit van Indonesie. Resink menyerahkan naskah Perburuan kepada H.B. Jassin, dan Jassin mengirimkan naskah itu ke Panitia Sayembara Balai Pustaka tanpa sepengetahuan Pramoedya. Setelah dikeluarkan dari penjara pada 12 Desember 1949, barulah Pramoedya mendapatkan pemberitahuan bahwa Perburuan keluar sebagai pemenang pertama sayembara.

Berbekal uang Hadiah Sayembara Balai Pustaka sebesar 1.000 gulden, Pramoedya menikahi Arvah Iljas pada 13 Januari 1950. Karena segan kembali ke rumah pamannya, Pramoedya hidup menumpang di Kebon Jahe Kober Gang III No. 8, kediaman orang tua Arvah. Karena suaminya belum mendapatkan pekerjaan tetap, Arvah memutuskan untuk meneruskan pekerjaannya sebagai operator telepon di Istana Negara.

Gedung ANTARA Persbureau, Djakarta, ca. 1948

3. JATUH BANGUN

Pramoedya Ananta Toer, ca. 1951
Pramoedya Ananta Toer, ca. 1951
(Arsip Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin)

Balai Pustaka mempekerjakan Pramoedya sebagai redaktur sastra Indonesia modern terhitung 1 Mei 1950. Pada masa itu, Balai Pustaka menjadi penerbit yang memegang pasar buku-buku sastra, sehingga pengarang dapat menerima royalti hingga 20 persen harga buku. Namun, belum sempat Pramoedya melaksanakan pekerjaannya, sepucuk surat dari Blora mengabarkan Pak Toer dalam perawatan akibat tuberkolosis. Pramoedya diminta segera pulang. 

Pak Toer tidak tertolong dan meninggal dunia di usia 55 tahun, 25 Mei 1950. Melihat keadaan keluarga dan rumah masa kecilnya yang memprihatinkan di Blora, Pramoedya memutuskan bertindak menjadi kepala keluarga sepenuhnya. Dia membawa tiga orang adiknya, yaitu Koesaisah (l. 1933), Koesalah (l. 1935), dan Soesilo (l. 1937), untuk disekolahkan di Taman Dewasa, Djakarta.

Sesudah kelahiran putri pertama mereka, Poedjarosmi, Pramoedya meminta Arvah berhenti dari pekerjaannya, dan mengandalkan penghasilan Pramoedya sebagai pegawai Balai Pustaka. Meski demikian, gaji Pramoedya yang tidak sampai separuh gaji redaktur lainnya membuatnya frustrasi dan kecewa. Untuk menalangi kebutuhan keluarga, Pramoedya harus menulis di berbagai media dengan honorarium yang jauh dari kata cukup.

Kesulitan ekonomi dan tuntutan untuk tetap menghasilkan karya-karya kreatif yang sesuai dengan ideal sebuah karya sastra membuat Pramoedya menjadi cepat naik darah, sering bertengkar dengan rekan sekerja, dan sering terlibat cekcok dengan Arvah. Gejala psikosomatik juga membuat Pramoedya sering sakit-sakitan, menyebabkan mutu tulisan yang dia hasilkan tidak seragam karena sekadar ditulis untuk mendapatkan honorarium yang tidak seberapa.

Sesudah keluar dari Balai Pustaka, Pramoedya sempat mendirikan keagenan “Mimbar Penjiaran DUTA”. Keagenan ini menerbitkan buletin secara aperiodik yang menghubungkan pengarang dan penerbit. Namun, karena sedikitnya naskah yang masuk, buletin yang dicetak justru mendatangkan kerugian. Usaha mendirikan penerbitan independen juga gagal karena sambutan pasar ternyata tidak seperti yang Pramoedya harapkan.

Di tengah keterpurukan, Pramoedya menerima undangan residensi penulis di Belanda dari Stichting voor Culturele Samenwerking (Sticusa). Turut diundang dalam residensi itu adalah Asrul Sani dan kakak-beradik Aoh dan Ramadhan Kartahadimadja. Pramoedya menerima undangan tersebut, dan berangkat dengan kapal laut bersama istri dan kedua putrinya pada Juni 1953. 

Di Belanda, Pramoedya bertempat tinggal di Jalan Oranje-Nassau Laan No. 5, sebuah rumah dengan uang sewa tinggi. Karena itu, Pramoedya menambah uang bulanan dari Sticusa dengan bekerja serabutan: menyusun teks siaran untuk Radio Hilversum, menulis di majalah De Evenaar, sampai menjadi korektor naskah di Penerbit Van Hoeve. Menjelang musim gugur, Arvah meminta pulang ke Indonesia, sementara Pramoedya tetap di Belanda sampai akhir 1953.

Sepulang ke Indonesia pada awal 1954, Pramoedya menjadi lebih percaya diri. Dia bekerja lebih produktif dari biasanya. Apa daya, masalah hidup datang silih-berganti. Akibat kebijakan Menteri Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan Mohammad Yamin, Balai Pustaka mengalami perubahan fungsi menjadi percetakan negara. Royalti penulis Balai Pustaka dipotong dari 20 menjadi 12 persen, termasuk royalti buku-buku Pramoedya.

Dengan penghasilan tidak menentu, honorarium yang sangat kecil, ditambah beban pajak penghasilan yang sangat memberatkan, Pramoedya dan Arvah menjadi semakin sering bertengkar, meski putri ketiga mereka baru saja dilahirkan. Ketika Pramoedya jatuh sakit karena kelelahan bekerja, Arvah bahkan pernah menghardiknya,

Tidur saja, padahal makan juga dari orang tuaku!

Perceraian Pramoedya dan Arvah tidak terelakkan. Bersama tiga adik, Pramoedya pindah ke sebuah rumah kontrakan di Rawamangun. Badai keluarga yang baru dia lalui membuat Pramoedya tidak mampu menulis meski ide cerita memenuhi kepalanya. Dalam situasi ini, Pramoedya berjumpa pertama kali dengan Maimunah Thamrin, seorang penjaga stand Pekan Buku Indonesia yang diadakan Penerbit Gunung Agung. 

Tanpa uang di dompetnya, Pramoedya mengaku hanya “keluyuran” karena writer’s block menghalangi kreativitas dan kemampuannya menuangkan kata-kata di atas kertas. Keadaan Pramoedya saat itu benar-benar nelangsa: tampang pucat, berat 49 kilogram, dan putus asa. Meski terpuruk, Maimunah menerima keadaan Pramoedya dan mulai secara rutin mengunjungi Pramoedya dan adik-adiknya di Rawamangun.

Kunjungan rutin itu berhasil menyuburkan benih-benih cinta yang tumbuh, hingga mereka mengikat janji pernikahan pada 19 Februari 1955. Jera dengan kegagalan rumah tangga sebelumnya, Pramoedya memboyong istrinya tinggal di kontrakan yang dia sewa di Rawamangun sesudah berbulan madu

Pramoedya Ananta Toer, ca. 1951

4. DI SIMPANG KIRI JALAN

Pramoedya Ananta Toer, ca. 1951
Pramoedya Ananta Toer, ca. 1951
(Arsip Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin)

Sepekan sesudah pernikahan dengan Maimunah, Sekretaris Jenderal Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) A.S. Dharta menemui Pramoedya dan memberinya pekerjaan menerjemahkan roman karya Maxim Gorki, Mother. Sesudah menyelesaikan pekerjaan terjemahan, majalah mingguan bergengsi Star Weekly meminta kesediaan Pramoedya menulis dengan nominal honorarium yang sangat besar.

Dengan dukungan Kementerian Pendidikan, Pengadjaran, dan Kebudajaan, Pramoedya ditunjuk mewakili Indonesia untuk menghadiri peringatan 20 tahun wafatnya Lu Hsun (1881-1936) di Beijing. Sepulang dari Tiongkok, penerbit-penerbit antikomunis menolak tulisan-tulisan Pramoedya dan berhenti mencetak ulang buku-bukunya, termasuk majalah Star Weekly yang memberikan honorarium paling besar di antara semua majalah.

Bersamaan dengan penolakan itu, tulisan-tulisan Pramoedya mulai terbit berkala di media massa berhaluan kiri. Reputasinya yang mulai mendapatkan pengakuan menjadikan Pramoedya semakin sering diundang ke luar negeri, termasuk mengetuai delegasi Indonesia dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uni Soviet, pada September 1958. Empat bulan kemudian, Pramoedya diundang menghadiri Kongres I Lekra di Surakarta, 22-28 Januari 1959, dan dipilih menjadi anggota kehormatan Lekra.

Di ruang-ruang kebudayaan surat kabar kiri, tulisan-tulisan Pramoedya mulai sering membahas isu-isu politik masa itu. Salah satunya, surat-menyurat Pramoedya dengan Chen Xiaru, mahasiswi dan sahabat penanya di Tiongkok, yang kemudian dibukukan dengan judul Hoakiau di Indonesia. Melalui buku tersebut, Pramoedya mengkritik implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 10/1959 yang rasialistis dengan dasar semangat sinofobia primordial.

Sesudah Hoakiau terbit, Pramoedya masih sempat mengunjungi Bombay dan Kairo pada Juli 1960. Saat Pramoedya berada di luar negeri itulah, Angkatan Darat menerbitkan pelarangan atas buku Hoakiau di Indonesia. Sekembali dari luar negeri, Agustus 1960, Pramoedya ditahan di Rumah Tahanan Militer dan diinterogasi oleh Mayor Sudharmono. Pramoedya ditahan tanpa peradilan dan pemberitahuan kepada keluarganya.

Dua bulan sesudah ditahan, Maimunah baru mengetahui keberadaan suaminya. Dengan usaha sendiri, Maimunah mengumumkan berita itu di surat kabar dan mengundang simpati luas dari komunitas Tionghoa-Indonesia. Angkatan Darat memindahkan Pramoedya ke Penjara Tjipinang pada Februari 1961, dan di sanalah dia meringkuk enam bulan lamanya sampai dibebaskan bersama dengan pemberontak PRRI/Permesta pada Agustus 1961.

Sekeluar dari penjara, Bintang Timur meminta Pramoedya mengasuh rubrik kebudayaan harian itu bersama S. Rukiah. Nama rubrik itu “Lentera”, terbit setengah halaman setiap hari Sabtu. Universitas Res Publica (Ureca) di bawah Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) juga meminta kesediaan Pramoedya menjadi dosen sejarah. Pramoedya menyanggupinya. Dua pekerjaan itu menjadi sumber pendapatan tetap yang menjamin kesejahteraan keluarga kecilnya.

Sebagai redaktur, Pramoedya mengasuh "Lentera" dengan secara berkala menerbitkan cerita pendek, cerita bersambung, esei, kajian sastra, hingga polemik yang menantang penandatangan Manifes Kebudajaan mempertanggungjawabkan pernyataan mereka. Penggunaan bahasa vulgar dalam rubrik "Lentera" didukung kebijakan redaksional Bintang Timur yang memberi Pramoedya kebebasan dalam menyusun rubriknya.

Sebagai dosen, Pramoedya menugaskan mahasiswanya mencari surat-surat kabar awal abad ke-20 di Perpustakaan Museum Pusat. Surat-surat kabar itu dibaca sejak awal terbitnya selama satu tahun penuh. Sesudah dinilai, Pramoedya tidak membuang makalah-makalah tersebut, melainkan disimpan dan dipelajari. Selain Ureca, Pramoedya juga mendirikan dan mengajar di Akademi Bahasa dan Sastra “Multatuli”; serta mengajar di Akademi Djurnalistik “Dr. Rivai” dan Akademi Sedjarah “Ranggawarsita”.

Produktivitas Pramoedya memuncak pada tahun-tahun ini. Dua jilid pertama buku Panggil Aku Kartini Sadja terbit pada 1962; disusul cerita bersambung “Gadis Pantai”; dan telaah sejarah pers Indonesia modern. Dengan bantuan seorang anggota redaksi, Abdullah Said Patmadji, Pramoedya mulai menerbitkan esai-esai panjang yang menelaah kemiripan novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck karya Hamka dan novel Majdulin karya Mustafa Al-Manfaluti. Hamka tidak pernah menjawab indikasi plagiarisme yang diperlihatkan, dan malah membiarkan polemik bergulir sedemikian rupa hingga bernuansa sangat politis.

Angin sejarah berbalik sesudah Gerakan 30 September gagal. Surat-surat kabar berhenti terbit dan mengirimkan honorarium terakhir ke rumah Pramoedya. Ureca menghentikan seluruh kegiatan perkuliahan. Dalam ketidakpastian, Pramoedya mengerjakan tulisan-tulisannya, sampai dia ditangkap di kediamannya pada 13 Oktober 1965. Dalam penyerbuan tersebut, perpustakaan pribadinya yang menyimpan 20.000 buku dihancurkan; delapan naskah buku dibakar; dan ribuan arsip bahan penelitian sejarah dimusnahkan dalam satu malam.

Pramoedya Ananta Toer, ca. 1951

5. TAHUN-TAHUN TERPANJANG

Pramoedya Ananta Toer dan rekan‐rekan tahanan politik di Pulau Buru, ca. 1976
Pramoedya Ananta Toer dan rekan‐rekan tahanan politik di Pulau Buru, ca. 1976
(Arsip Pramoedya Ananta Toer Foundation)

Selama tujuh bulan pertama sejak ditangkap, Pramoedya mengalami perpindahan tempat penahanan beberapa kali. Mula-mula, dia ditahan di Unit Penjelidikan Chusus (Lidikus) di Jalan Lapangan Banteng Barat, kemudian dipindahkan ke Asrama Corps Polisi Militer (CPM) Guntur, lalu ke Penjara Tangerang antara Desember 1965 hingga Mei 1966. Dari Tangerang, Pramoedya dikembalikan ke Djakarta, dan ditahan di Blok R Rumah Tahanan Chusus (RTC) Salemba bersama adiknya Prawito dan pamannya Moedigdo, semua tanpa disertai alasan yang jelas.

Selama penahanan di RTC Salemba, Pramoedya tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk dikunjungi keluarganya, karena kunjungan membutuhkan izin Komando Daerah Militer (Kodam) Djakarta. Meski demikian, Pramoedya tetap menerima kiriman dari Maimunah secara teratur, serta berkesempatan menikahkan Poedjarosmi yang datang ke RTC bersama penghulu dan calon suaminya pada awal 1969.

Pada bulan Juli 1969, Pramoedya diklasifikasikan dalam tahanan politik golongan "B" yang dipindahkan ke Pulau Nusakambangan. Hanya enam pekan menghuni Penjara Karang Tengah Nusakambangan, Pramoedya diberangkatkan bersama 800 tahanan politik lain ke Pulau Buru dengan Kapal "ADRI XV" pada 16 Agustus 1969 sebagai rombongan pertama.

Perjalanan dengan kapal membutuhkan waktu 11 hari karena mesin kapal beberapa kali mati. Kecuali bunyi perut tahanan yang kelaparan, bunyi lain yang terdengar dari geladak adalah siaran Radio Republik Indonesia yang diputar keras-keras dan berulang kali mengumandangkan, "Selamat Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-24".

Selama empat tahun pertama di Pulau Buru, Pramoedya ditempatkan di Unit III "Wanayasa", dan dimasukkan regu "Djalan dan Djembatan". Regu ini diperintahkan melaksanakan kerja paksa membangun infrastruktur jalan dari pelabuhan sepanjang 175 kilometer. Di samping itu, seperti tahanan politik lain, Pramoedya juga menggarap sawah dan beternak. Memasuki tahun kelima, Pramoedya dipindahkan ke Unit I "Wanapura".

Dalam waktu cepat, kematian nalar dan daya cipta merebak di antara tahanan politik, terutama yang dahulu berprofesi seniman dan cendekiawan. Kerja siang hari melelahkan, sementara di malam hari, mereka terkena pembatasan jam malam. Keinginan bertahan hidup memudar. Peristiwa tapol dibunuh, saling membunuh, dan bunuh diri sering terjadi. Menyaksikan keadaan ini, Pramoedya berinisiatif memulihkan semangat teman-temannya dengan keahlian utamanya: bercerita.

Setiap malam sepulang bekerja, Pramoedya mengumpulkan teman-temannya di barak untuk mendengarkan cerita yang sudah hidup di kepalanya sejak lama: kisah perempuan pribumi yang mandiri; orang muda yang gelisah menyaksikan penjajahan bangsanya, dan berusaha membebaskan mereka. Efek psikis cerita-cerita ini terbukti nyata, bahkan mencegah sejumlah tapol melakukan tindak bunuh diri. Dari mulut ke mulut, cerita ini tersebar dan diceritakan ulang keesokan harinya saat bekerja di ladang kepada mereka yang tidak sempat mendengarkan.

Pada 1973, Instalasi Rehabilitasi Pulau Buru menerima kunjungan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, Jenderal Soemitro. Salah satu agenda kunjungan itu adalah menemui Pramoedya Ananta Toer, nama yang pertama kali Soemitro dengar dari penulis Prancis Jean Paul Sartre ketika mereka bertemu di Paris beberapa bulan sebelumnya. Agenda itu terlaksana di hari kedua kunjungan. Sesudah diwawancarai, Pramoedya meminta alat tulis: mesin ketik, kertas, buku notes, dan buku bacaan. Soemitro menyanggupinya.

Janji Soemitro tidak pernah tiba. Izin menulis diberikan, tetapi tanpa peralatan yang memadai. Pramoedya harus putar otak memanfaatkan barang-barang yang tersedia: sebuah mesin tik bekas Royal 440 dengan pita tipis dari gudang Markas Komando. Dengan bantuan sesama tahanan politik, dia menyiasati keterbatasan: kertas dari bekas karung semen; air rebusan daun nila untuk pewarna pita; dan cor semen penutup septic tank untuk menyembunyikan naskah.

Pramoedya mulai menuliskan cerita yang dulu dia lisankan kepada teman-temannya di barak. Alur cerita diperbaiki. Kekeliruan istilah dan latar belakang historis dikoreksi tahanan politik lain yang berlatar belakang pendidikan hukum dan sejarah. Dengan gotong-royong, disiplin, dan kemampuan Pramoedya mengetik cepat dan rapi, satu demi satu manuskrip selesai: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Arok Dedes, Mata Pusaran, Arus Balik, Mangir, dan Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.

Naskah-naskah yang sudah jadi disatukan, dijahit, dan digandakan rangkap enam. Manuskrip itu lantas disembunyikan supaya aman dari rampasan peleton pengawal. Sejumlah naskah berhasil diselundupkan melalui rohaniwan Katolik yang memberikan pelayanan konseling rohani pada tahanan politik, karena rohaniwan memiliki hak tidak diperiksa. Tidak hanya menyelundupkan naskah, bantuan para rohaniwan Katolik juga memungkinkan Pramoedya menerima dan membalas kartu pos dari istri dan anak-anaknya secara teratur.

Ketika gelombang pembebasan tahanan politik mulai dilaksanakan pada Desember 1977, Pramoedya menitipkan naskah-naskahnya kepada tapol yang pulang lebih dulu. Baru pada 12 November 1979, Pramoedya meninggalkan Pulau Buru sebagai rombongan terakhir. Dalam perjalanan, Pramoedya termasuk di antara 11 tahanan politik yang diturunkan di Surabaya, diangkut dengan bus ke Banyumanik, dan ditahan sampai 21 Desember 1979. Sesudah mengucapkan sumpah dalam upacara pembebasan di Semarang, barulah Pramoedya dibawa ke Jakarta dan kembali ke keluarga yang telah 14 tahun dipisahkan darinya.

Pramoedya Ananta Toer dan rekan‐rekan tahanan politik di Pulau Buru, ca. 1976

6. DALAM BELENGGU "ET"

Pramoedya Ananta Toer di Perpustakaan Rumahnya, ca. 1981
Pramoedya Ananta Toer di Perpustakaan Rumahnya, ca. 1981
(Arsip Pramoedya Ananta Toer Foundation)

Sesudah dipulangkan dari Pulau Buru, Pramoedya menyandang status "ET", eks-tahanan politik, yang tertera di Kartu Tanda Penduduknya. Dia dikenakan wajib lapor ke Komando Distrik Militer (Kodim) Jakarta Timur setiap minggu, dan tidak mendapatkan hak-hak sosial-politiknya sebagai warga negara: dilarang bekerja sebagai pegawai negeri; tidak punya hak memilih dan dipilih dalam Pemilihan Umum; tidak boleh menerbitkan tulisan di media massa; dan harus mengajukan izin khusus apabila ingin bepergian ke luar yurisdiksi Kodim.

Terhadap pencabutan hak-hak tersebut, Pramoedya tidak dapat berkutik. Namun, dia memutuskan tetap bekerja dan mendirikan penerbitan "Hasta Mitra". Proyek pertama Hasta Mitra adalah menerbitkan karya-karya Pramoedya yang ditulisnya selama di Pulau Buru, dengan judul pertama diterbitkan adalah Bumi Manusia pada Agustus 1980. Cetakan pertama sebanyak 10.000 eksemplar laku terjual dalam dua minggu.

Edisi pertama Bumi Manusia terbit 10.000 eksemplar pada 25 Agustus 1980, dan habis terjual dalam waktu dua pekan. Cetak ulang terus bergulir, dan dalam waktu singkat, roman sejarah itu telah menjangkau seluruh Indonesia. Surat-surat kabar dan majalah mulai menurunkan resensi dari kritikus sastra yang memuji Bumi Manusia karena penerbitan itu menandai kembalinya Pramoedya dalam gelanggang kesusastraan Indonesia setelah vakum selama lebih dari satu dekade.

Dalam waktu 10 bulan sejak naik cetak, 60.000 eksemplar Bumi Manusia laku terjual. Keberhasilan ini memantapkan tekad Hasta Mitra untuk menerbitkan sekuel Bumi Manusia berjudul Anak Semua Bangsa pada Desember 1980, yang juga langsung cetak ulang sebulan kemudian.

Kesuksesan itu tidak berjalan mulus. Pada 29 Mei 1981, Kejaksaan Agung Republik Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan No. 052/J.A./5/1981 yang menyatakan larangan pencetakan dan peredaran buku Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, serta memerintahkan semua orang yang memiliki dan menyimpannya agar segera menyerahkan buku-buku tersebut kepada aparat berwajib untuk dimusnahkan.

Dalam surat keputusan yang ditandatangani Jaksa Agung Ismail Saleh tersebut, Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa dilarang atas dasar pertimbangan, "....isi kedua buku tersebut, setelah dipelajari dengan saksama, ternyata dengan kemahiran dan kelincahan pena pengarangnya, secara halus dan terselubung melalui data-data sejarah telah dapat menyusupkan ajaran Marxisme-Leninisme." Larangan tersebut tidak pernah dicabut.

Pelarangan tersebut merupakan puncak intimidasi yang telah diterima sebelumnya, mulai dari surat edaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bulan Oktober 1980 yang melarang Bumi Manusia dikoleksi oleh perpustakaan sekolah; teror kepada redaksi surat-surat kabar dan majalah agar tidak memuat resensi Bumi Manusia; hingga pembubaran ceramah di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia yang mengundang Pramoedya sebagai pembicara.

Sesudah pelarangan diberlakukan, Hasta Mitra terpaksa mengubah strategi. Penjualan kini harus dilakukan secara klandestin dan sembunyi-sembunyi, berhadapan dengan meningkatnya pembajakan terhadap buku-buku Pramoedya akibat besarnya tuntutan pasar. Alhasil, royalti penjualan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa yang Pramoedya terima menjadi tidak teratur karena penjualan buku resmi praktis sudah berhenti.

Meski pelarangan tersebut mulai berdampak serius pada keuangan Hasta Mitra, Pramoedya dapat sedikit lega karena reputasi internasional yang dia miliki belum pudar. Komunitas internasional bereaksi keras terhadap pelarangan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Kedutaan Besar Republik Indonesia di Melbourne, Australia, bahkan pernah menjadi sasaran demonstrasi yang menuntut pencabutan pelarangan buku Pramoedya Ananta Toer.

Reputasi internasional Pramoedya juga membantu penjualan buku-bukunya di luar negeri, yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Maxwell "Max" Ronald Lane, seorang pegawai Kedutaan Besar Australia di Jakarta dan diterbitkan Penguin Books Australia dengan judul This Earth of Mankind pada 1982. Penerjemahan tersebut berhasil. This Earth of Mankind laku keras dan menjadi best-seller tahun itu juga.

Perluasan sirkulasi tersebut juga dimungkinkan berkat kerja keras Manus Amici, penerbit di Belanda yang dikelola eksil politik, yang menerjemahkan Bumi Manusia ke dalam bahasa Belanda. Publikasi internasional memungkinkan Pramoedya menerima royalti atas terjemahan buku-bukunya, meski dia akui kiriman royalti dari luar negeri itu juga tidak terlalu teratur, bahkan setelah terjemahan itu dicetak ulang beberapa kali.

Pelarangan atas buku-buku Pramoedya yang diterbitkan Hasta Mitra berlangsung silih-berganti sepanjang dasawarsa 1980 hingga 1990-an dengan bermacam-macam alasan, mulai dari "menyebarkan ajaran Marxisme-Leninisme" hingga "mengganggu ketertiban umum". Meski demikian, Pramoedya menolak tunduk dan meneruskan pekerjaannya. Sehari-hari, dia tetap menulis, mengkliping, dan menerima wawancara dari dalam dan luar negeri.

Dalam segala keterbatasan, pemberangusan, dan pengawasan di negerinya sendiri, Pramoedya terus menerima hadiah dan penghargaan dari luar negeri. Dia menjadi anggota kehormatan P.E.N. Australia Centre dan P.E.N. Swedish Centre pada 1982; anggota kehormatan P.E.N. American Centre pada 1987; dan anggota P.E.N. English Centre pada 1992. Pramoedya menerima Freedom-to-Write Award dari P.E.N. American Centre pada 1988; penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York; Hadiah Ramon Magsaysay di bidang Jurnalisme, Susastra, dan Komunikasi Kreatif pada 1995; Wertheim Award dari The Wertheim Foundation pada 1995; dan UNESCO Madanjeet Singh Prize dari UNESCO pada 1996.

Pramoedya Ananta Toer di Perpustakaan Rumahnya, ca. 1981

7. BEBAS

Pramoedya Ananta Toer dan keluarga, ca. 1993
Pramoedya Ananta Toer dan keluarga, ca. 1993
(Arsip Pramoedya Ananta Toer Foundation)

Pengunduran diri Soeharto sebagai presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998 menandai berakhirnya tahun-tahun terpanjang Pramoedya dalam penindasan Orde Baru. Meski Kejaksaan Agung tidak pernah mencabut pelarangan terhadap karya-karya Pramoedya, buku-bukunya mulai beredar secara leluasa, dicetak ulang, dan diperjualbelikan di toko-toko buku. Dengan dibantu putri sulungnya, Astuti, Pramoedya mengurus kembali semua royalti dan hak terjemahan buku-bukunya yang belum dibayarkan dari penerbit-penerbit dalam dan luar negeri

Sesudah 34 tahun, Pramoedya menerima kembali hak-hak sosial politiknya sebagai Warga Negara Indonesia dan dibebaskan dari tahanan negara pada 1999, sehingga ia dapat menerima penghargaan di luar negeri secara leluasa: Doctor of Human Letters dari University of Michigan (1999); Chanceller's Distinguished Honor Award dari University of California, Berkeley (1999); Chevalier de l'Ordre des Arts des Letters dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Prancis (2000); New York Foundation for the Arts Award (2000); Fukuoka Cultural Grand Prize (2000); The Norwegian Authors Union (2004); dan Centenario Pablo Neruda dari Chile (2004).

Pada 2003, Pramoedya mendirikan usaha penerbitan yang dikelola oleh keluarganya sendiri, bernama Lentera Dipantara. Penerbit ini menjadi produsen tunggal dan menjadi pemegang hak cipta karya-karya Pramoedya Ananta Toer hingga saat ini. Dia juga mendirikan sebuah rumah peristirahatan di Bojonggede sebagai tempat untuk menjalani hari tua dengan tenang di antara keluarga dan cucu-cucunya.

Pramoedya Ananta Toer meninggal dunia di Jakarta pada 30 April 2006 pukul 08.55 WIB, setelah berjuang melawan komplikasi penyakit diabetes, paru-paru, dan jantung yang dideritanya. Prosesi pemakamannya di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak dihadiri tokoh-tokoh nasional dan orang-orang muda yang mengaguminya, kepada siapa Pramoedya mempercayakan masa depan tanah airnya yang tercinta, Indonesia.

Pramoedya Ananta Toer dan keluarga, ca. 1993