Oleh: Baca Batja*
Hampir 20 tahun Pramoedya Ananta Toer telah meninggalkan dunia, tetapi tulisan-tulisannya tidak lekang oleh zaman dan justru semakin relevan. Klub Buku Baca Batja merayakan #SeabadPram dengan membaca dan mendiskusikan Gadis Pantai, salah satu roman karya Pram yang masih mempunyai relevansi hingga kini. Saat menuliskan buku ini, Gadis Pantai adalah bagian pertama dari rencana trilogi, tetapi Angkatan Darat kala itu menyita dan menghancurkan naskah kelanjutannya. Akibatnya, kita hanya dapat mengakses buku pertama dan hanya dapat menebak-nebak isi buku kedua dan ketiga. Alergi militerisme terhadap aktivitas intelektual dan sastra yang kritis mereproduksi kekerasan melalui cultural war yang sangat kentara dalam pengalaman Pram tersebut. Dengan disahkannya UU TNI dengan cara yang tidak demokratis, ugal-ugalan, dan menjadi manifestasi nyata dari reformasi dikorupsi, kekhawatiran itu pantas mencuat kembali.
Seperti buku-buku Pram lainnya, Gadis Pantai menggambarkan realitas sosial era penjajahan Belanda. Di dalamnya, Pram menyelipkan kritik keras terhadap feodalisme Jawa, kolonialisme, patriarki, dan ketimpangan kelas. Apa yang menjadikan buku ini menarik adalah Pram, sebagai penulis laki-laki, konsisten menggambarkan tokoh-tokoh perempuan dalam bukunya sebagai subjek yang aktif—tidak sekadar patuh, tetapi mempunyai agensi yang kuat. Meski Gadis Pantai dalam novel ini adalah anak perempuan yang dinikahkan orang tuanya dengan seorang priyayi Jawa demi menaikkan taraf hidup, ia tidak digambarkan sebagai seseorang yang selalu menurut. Naif, tetapi tidak pasif. Tokoh Gadis Pantai tergambar lengkap dengan keresahan, keinginan, pemikiran, mimpi, harapan, dan angan-angan.
Melalui Gadis Pantai, kita menjadi saksi perjalanan “the becoming of Gadis Pantai” ketika ia mulai menyadari struktur-struktur sosial yang tidak adil antara priyayi dan sahaya, laki-laki dan perempuan, istri sah dan istri percobaan, orang kota dan orang desa, gedung dan rumah, surau dan laut, miskin dan tidak. Bab-bab awal berulang kali memperlihatkan cara orangtua Gadis Pantai mengatakan bahwa mereka menikahkan dia agar dia tidak miskin. Menariknya, Gadis Pantai tidak pernah merasa miskin. Secara cerdas, Pram menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan kondisi ontologis, dan tidak hanya bersifat materiil.
Lekuk bahasa Pram dalam menggambarkan realitas sosial terlihat dalam berbagai adegan dalam roman ini. Salah satu yang paling menonjol adalah perbedaan bahasa yang digunakan sejak Gadis Pantai tinggal di rumah Bendoro. Di rumah batu tersebut, bahasa yang digunakan hanyalah bersifat perintah dan kepatuhan. Bendoro memerintah Gadis Pantai, dan Gadis Pantai harus memerintah pembantu (“Mbok”) yang ditugaskan melayaninya. Pemakaian bahasa ini kontras jika dibandingkan dengan kampung nelayan, di mana setiap orang dapat berbicara satu sama lain tentang apapun secara egaliter, tanpa perlu mengecualikan siapapun.
Konsistensi Pram mengkritik feodalisme Jawa tampak dalam pemakaian bahasa dan interaksi Bendoro dan Gadis Pantai, serta cara Bendoro memperlakukan masyarakat Gadis Pantai. Bendoro digambarkan seseorang terdidik, saleh, mapan, superior secara moral dan intelektual. Di sisi lain, dia menganggap remeh masyarakat lain yang dia anggap tidak sederajat dengannya. Berulang kali Bendoro mengatakan kepada Gadis Pantai bahwa orang-orang kampung nelayan kotor, bodoh, miskin, tak beragama, dan karena itu tidak beradab, sehingga mereka perlu intervensi dengan diajarkan tata kehidupan yang benar, belajar agama, dan mengaji. Padahal, masyarakat nelayan juga memiliki pengetahuan akan kehidupan mereka sendiri. Identitas yang mereka miliki sebagai orang yang hidup dari laut telah mengajarkan mereka bertahan hidup sejak zaman kakek dan nenek moyang mereka. Mereka belajar mengambil apa-apa dari laut, tetapi dengan tetap menghormati laut sebagaimana laut telah begitu pemurah kepada mereka. Meski demikian, Pram tidak luput menunjukkan realitas zaman itu, saat patriarki tetap menjadi budaya komunitas kampung nelayan.
Selain Gadis Pantai, roman ini menceritakan tokoh-tokoh perempuan lainnya, seperti Mbok, sahaya yang sangat patuh, tetapi jiwa perlawanannya tumbuh seiring berjalannya waktu. Lalu, ada juga Mardinah yang awalnya terlihat jahat kepada Gadis Pantai sebagai sesama perempuan, tetapi bila dipahami kembali, ia juga seorang perempuan yang tidak begitu saja patuh, apa lagi jika sudah menyangkut nasibnya sendiri. Ia aktif menjalankan kendali atas dirinya untuk mencari kesempatan dalam kesempitan budaya patriarki yang membatasi pilihan perempuan. Sayangnya, dalam buku ini, kita juga menyaksikan Mardinah dihukum dengan cara yang hari ini dianggap sebagai kekerasan berbasis gender, yaitu dipaksa menjadi istri laki-laki yang bukan pilihannya sendiri dan dibiarkan diperkosa; gambaran yang juga merupakan peringatan tentang zaman yang hendaknya tidak terulang.
Selamat 100 tahun, Pram; Terima kasih telah menghadirkan tulisan-tulisan yang aman dan nyaman bagi perempuan—baik perempuan di zamanmu, di zaman kami saat ini, dan di zaman yang akan datang kelak. Kau abadi dan tak akan pernah mati.
*) Komunitas buku kecil di Jakarta yang mendiskusikan satu buku setiap akhir bulan. Temukan kami lewat Instagram @bacabatja.
